Monday, November 25, 2013

PERUBAHAN HUTAN DI KABUPATEN MUNA



Hutan mempunyai fungsi pokok sebagai fungsi lindung, fungsi ekologi dan fungsi produksi. Potensi dan keadaan hutan yang selalu berubah karena kondisi alam dan penebangan yang dilakukan oleh manusia menyebabkan inventarisasi hutan harus dilakukan secara berkala. Bentuk perubahan hutan meliputi perubahan fungsi hutan akibat alih fungsi hutan (deforestasi) dan perubahan fungsi hutan akibat menurunnya kerapatan pohon (degradasi hutan). Penelitian ini bertujuan untuk 1). mengkaji agihan spasial perubahan hutan dalam bentuk deforestasi dan degradasi hutan; 2). mengkaji kesesuaian antara perubahan hutan dengan Rencana Pola Pemanfaatan Ruang Kabupaten Muna tahun 2004-2013 dan 3). mengkaji kualitas data spasial hutan hasil interpretasi citra Aster VNIR untuk evaluasi perubahan hutan.
Metode pengolahan citra Aster VNIR dengan melakukan interpretasi visual pada citra komposit band 321 untuk perolehan data spasial penggunaan lahan untuk kajian deforestasi dan menerapkan transformasi NDVI, regresi linier antara sampel nilai NDVI dan hasil pengukuran kerapatan kanopi hutan di lapangan untuk pemetaan kerapatan kanopi hutan dalam kajian degradasi hutan. Peta perubahan hutan dan kesesuaian antara perubahan hutan dengan Rencana Pola Pemanfaatan Ruang Kabupaten Muna dihasilkan dari pemerosesan SIG. Hasil analisis dalam bentuk matriks dan peta perubahan hutan dengan kerincian informasi skala peta 1:200.000, sedangkan uji kualitas data spasial hutan hasil interpretasi citra Aster VNIR menggunakan error matriks.
Hasil pengolahan citra Aster VNIR perekaman tahun 2006 dan citra Aster VNIR perekaman tahun 2011 menunjukkan bahwa deforestasi pada tahun 2006-2011 sebesar 11.111,62 ha (31,64%) dari total luas penggunaan lahan hutan (35.117,84 ha) dengan laju deforestasi sebesar 6,33% per tahun. Degradasi hutan yang terjadi sebesar 6.343,19 ha (19,02%) dari luas hutan dalam pemetaan kerapatan kanopi hutan (33.348,12 ha) dengan laju degradasi hutan sebesar 5,8% per tahun. Agihan spasial perubahan hutan yang terjadi secara merata pada hutan lindung dan hutan produksi mengindikasikan bahwa rencana pola pemanfaatan ruang Kabupaten Muna tahun 2004-2013 belum berfungsi secara optimal sebagai kontrol penataan dan pemanfaatan ruang di Kabupaten Muna. Hasil uji ketelitian error matriks menunjukkan bahwa overal Accuracy data spasial perubahan hutan sebesar 89,3%. Hal ini menunjukkan bahwa citra Aster selengkapnya

Thursday, November 12, 2009

SISTEM INFORMASI GEOGRAFI

Sistem Informasi Geografis merupakan sistem berbasis computer yang didesain untuk mengumpulkan, mengelola, memanipulasi, dan menampilkan informasi spasial (keruangan)1. Yakni informasi yang mempunyai hubungan geometric dalam arti bahwa informasi tersebut dapat dihitung, diukur, dan disajikan dalam sistem koordinat, dengan data berupa data digital yang terdiri dari data posisi (data spasial) dan data semantiknya (data atribut). SIG dirancang untuk mengumpulkan, menyimpan dan menganalisis suatu obyek dimana lokasi geografis merupakan karakteristik yang penting, dan memerlukan analisis yang kritis. Penanganan dan analisis data berdasarkan lokasi geografis merupakan kunci utama SIG. Oleh karena itu data yang digunakan dan dianalisa dalam suatu SIG berbentuk data peta (spasial) yang terhubung langsung dengan data tabular yang mendefinisikan bentuk geometri data spasial. Misalnya apabila kita membuat suatu theme atau layer tertentu, maka secara otomatis selanjutnya

Friday, October 30, 2009

Open Source GIS

Open Source GIS
Abstrak
Pemerintah Indonesia telah mencanangkan program IGOS (Indonesia Goes Open Source) pada awal tahun 2005. Kita yang berkecimpung dalam bidang Geo-spasial harus mendukung sepenuhnya kegiatan ini. Tulisan ini menyajikan aplikasi open source dalam bidang Geo-Spatial. Contoh aplikasi dan penggunaan aplikasi open soource juga dibahas lebih jauh.

1. Pendahuluan
Sejak Pemerintah Indonesia mencanangkan IGOS (Indonesia Goes Open Source) awal tahun 2005, perhatian kita terhadap yang berbau open source mulai meningkat. Hal ini juga didukung sepenuhnya oleh isu hak cipta, biaya lisensi perangkat lunak komersial yang tinggi dan kemampuan beli masyarakat Indonesia yang rendah.

2. Open Source
“Open source” secara teknis dapat diartikan sebagai perangkat lunak yang menyediakan kode sumber (source code) untuk dimodifikasi dan didistribusikan kepada publik. Ada beberapa lisensi aplikasi open source (AOS) yang dikoordinasikan oleh “Open Source Initiative” (http://www.opensource.org). Kesuksesan AOS bukan disebabkan oleh karena penyediaan kode sumber yang secara bebas dapat dimodifikasi dan disitribusikan, akan tetapi lebih disebabkan oleh tumbuh dan berkembangnya komunitas yang memiliki minat yang sama dalam mengembangkan aplikasi tersebut.
Secara umum keunggulan AOS selengkapnya

Sunday, December 7, 2008

Astronomi dan Aerophysic Sumbangan Terbesar Bagi Manusia

Bumi adalah buaian pemikiran, namun seseorang tak bisa tinggal dalam buaian selamanya. Kalimat itu merupakan hasil pemikiran yang sarat makna dari seorang ilmuwan yang bernama Konstantin Tsiolkovsky (1911). Dari hasil pemikirannya, kemudian timbul berbagai ide yang berkaitan dengan angkasa luar, contohnya kehidupan di luar angkasa, dan keadaan tanpa bobot. Pemikiran seperti itulah yang merupakan cikal-bakal untuk menjawab segala hal yang berkaitan dengan bumi dan segala isinya.
Mempelajari bumi sama artinya . . . . selanjutnya

Artikel Lain
Drs. Muchlis Catio, M.Ed IOAA Tingkatkan Mutu Pendidikan dan Sumber Daya Manusia>(22 Aug 08)

Hasil Riset tentang Peranan Multimedia dalam Pembelajaran

Ketika kita mendengar istilah pembelajaran dengan multimedia, maka yang terlintas di benak kita adalah penggunaan teknologi presentasi di dalam kelas, misalnya penggunaan televisi, komputer, dan proyektor di dalam kelas. Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan multimedia? Multimedia merupakan penggabungan lebih dari satu media menjadi suatu bentuk komunikasi yang bersifat multimodal atau multichannel (Heinich, 2002; Boyle, 1997; Rieber, 1994). Multimedia telah banyak digunakan oleh perusahaan-perusahaan untuk menyampaikan bahan-bahan pelatihan kepada para karyawannya, juga oleh para guru dan dosen untuk menyampaikan materi ajarnya kepada para siswa dan mahasiswa. Diyakini bahwa penggunaan multimedia dalam suatu kegiatan belajar (di sekolah maupun dalam kegiatan pelatihan) mampu meningkatkan hasil kegiatan belajar. Software-software presentasi seperti Microsoft PowerPoint menggabungkan berbagai jenis media ke dalam suatu paket presentasi yang menarik, yang akan menarik perhatian dan meningkatkan motivasi para pembelajar (Jonassen dkk, 1999).
Oleh: Joko Sutrisno, S.Si., M.Pd.
">Link


Saturday, November 22, 2008

PEMBELAJARAN TUNTAS

Pembelajaran pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah menempatkan peserta didik sebagai subyek didik. Program pembelajaran yang dimaksud lebih difokuskan pada ”peserta didik dan apa yang dikerjakannya” bukan pada ”Guru dan apa yang dikerjakannya” Peserta didik sebagai pebelajar perlu lebih banyak terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini bertolak dari anggapan bahwa peserta didik memiliki potensi sendiri dan potensi terebut hanya dapat diwujudkan apabila diberi banyak kesempatan untuk berfikir sendiri. Oleh karena itu, guru tidak boleh lagi perberan sebagai orang yang tahu segalanya, melaingkan guru berperan sebagai fasilitator dalam proses belajar pada indifidu peserta didik.
Peran guru dalam merencanakan proses pembelajaran adalah memilih metode yang tepat agar proses pencapaian tujuan pembelajaran lebih efektif dan peran peserta didik adalah memilih bagaimana startegi belajar yang efektif untuk memaksimalkan pencapaian ketuntansan belajar. Mengingat pendekatan proses belajar dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan mengisyaratkan pembelajaran tuntas (Mastery Learning), maka peserta didik disyaratkan menguasai secara tuntas seluruh Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran tertentu (ketuntasan kompetensi secara indifidu).
Gentile dan Lalley mengemukakan prinsip-prinsip pembelajaran tuntas (Mastery Learning) adalah :
1. Kompetensi yang harus dicapai peserta didik dirumuskan dengan urutan yang hirarkis,
2. Evaluasi yang digunakan adalah penilaian acuan patokan, dan setiap kompetensi harus diberikan feedback,
3. Pemberian pembelajaran remedial serta bimbingan yang diperlukan,
4. Pemberian program pengayaan bagi peserta didik yang mencapai ketuntasan yang lebih awal.
Prinsip-prinsip pembelajaran tuntas diatas perlu dilakukan oleh guru sebagai bagian dari pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
Dalam model yang paling sederhana bahwa, jika peserta didik diberi waktu yang sesuai dengan yang diperlukan (time actually spent) untuk mencapai penguasaan kompetensi tertentu dan peserta didik menggunakan waktu yang diberikan (time needed) secara maksimal, maka besar kemungkinan peserta didik mencapai tingkat penguasan kompetensi (degree of learning). Tetapi jika peserta didik tidak diberikan waktu yang cukup atau tidak menggunakan waktu yang diberikan secara penuh maka tingkat penguasaan kompetensi (degree of learning) tidak maksimal. Perlu diketahui bahwa acuan pencapaian ketuntasan kompetensi peserta didik (pencapaian ketuntasan belajar atau KKB) perlu ditetapkan oleh guru dengan kriteria yang berbeda-beda agar peserta didik dapat dinyatakan ketuntasan belajarnya. (Farhan Abdul Musawwir)